INDUSTRI PENYAMAKAN KULIT

INDUSTRI PENYAMAKAN KULIT

Penyamakan kulit adalah proses pengolaan kulit mentah, hingga menjadi bahan baku untuk berbagai keperluan, terutama untuk jaket, sepatu, tas, dan jok. Teknologi penyamakan kulit awalnya dikembangkan di India sekitar 7.000 – 3.800 SM. Sekitar tahun 2.500 SM, teknologi ini menyebar ke Sumeria (Mesopotamia).

Industri penyamakan kulit secara kuno, harus berlokasi di luar kota, di tempat yang terasing dari hunian. Sebab industri ini akan menimbulkan pencemaran bau busuk yang luar biasa. Pertama adalah bau busuk kulit itu sendiri, kemudian ditambah bau busuk bahan penyamakan, yang terdiri dari urine manusia, kotoran dan otak binatang. Yang disamak, kebanyakan kulit kambing, domba, sapi, unta, dan kuda. Kulit itu datang ke lokasi penyamakan dalam keadaan kering (terpentang), dan kotor. Maka langkah awal yang dilakukan industri penyamakan adalah merendam kulit itu dengan air, agar bisa dibersihkan dari debu, pasir, darah, sisa daging dan lemak.

Langkah kedua, kulit itu akan direndam dalam urine selama beberapa hari, dan melumurinya dengan kapur. Tujuannya untuk memudahkan perontokan bulu dari kulit. Perontokan dilakukan dengan pengerokan menggunakan pisau. Setelah terbebas dari bulu, kulit dilumuri kotoran ternak, kemudian direndam dalam larutan otak binatang. Kemudian kulit diremas-remas untuk melemaskannya (melunakkannya), sebelum dikeringkan untuk digunakan dalam berbagai keperluan. Selain untuk pakaian serta sepatu, pada jaman purba kulit yang telah disamak juga untuk tempat air, tas, menulis dokumen, dan buku, tenda, kereta perang, dan perahu.

 

# # #

 

Sekarang kulit yang disamak lebih bervariasi. Selain kulit kambing, domba, sapi, kerbau, dan kuda, juga disamak kulit gajah (di Thailand dan India), kelinci, buaya, ular, dan burung unta. Proses penyamakan juga tidak menimbulkan pencemaran bau seperti halnya penyamakan pada jaman purba. Industri penyamakan sekarang sudah bekerjasama dengan industri pemotongan hewan, hingga kulit yang datang tidak perlu terlebih dahulu dikeringkan, melainkan langsung direndam dalam larutan garam. Prendaman dalam larutan garam lebih praktis dibanding dengan pementangan dan penjemuran, karena tidak memerlukan tempat luas, juga menghemat tenaga dan peralatan. Dengan direndam air garam, kulit tidak akan membusuk (menimbulkan pencemaran bau), dan terhindar dari kerusakan.

 

Selanjutnya, bagian kulit yang ditumbuhi bulu, dilumuri Calcium hydroxide [Calcium Hydrosulfide, Ca(OH)2], atau bahan lain seperti Sodium sulfide (Na2S.9H2O), Sodium Hydroxide (NaOH), Sodium Hydrosulfite (Sodium dithionite, Na2S2O4), Arsenic sulfide (As2S3), Dimethyl Amine [(CH3)2NH], Sodium Sulphydrate (Sodium hydrosulfide, NaHS). Bahan-bahan ini merupakan perontok bulu dan juga bahan keras lain dari kulit. Misalnya lapisan zat tanduk pada kulit buaya dan ular. Penggunaan bahan kimia pelunak bulu ini sangat tergantung dari jenis bulu dan zat tanduk yang ada pada kulit. Perontokan bulu pada industri penyamakan kulit modern, dilakukan dengan menggunakan mesin perontok bulu. Meskipun pada industri penyamakan kulit skala rumah tangga, perontokan bulu masih dilakukan secara manual dengan pengerokan.

 

Kulit yang sudah dihilangkan bulunya, akan memasuki tahap penetralan garam, dan zat kimia lainnya, sebelum memasuki tahap taning (pemberian zat tanin). Proses pembersihan garam dan zat kimia dilakukan melalui tahap perendaman menggunakan air bersih selama enam jam sampai dua hari. Agar selama perendaman kulit tidak tercemari kapang (jamur), dan bakteri, ke dalam air rendaman bisa ditambahkan biosida seperti pentachlorophenol (C6HCl5O). Setelah kulit benar-benar terbebaskan dari garam, dilakukan proses taning (pemberian zat tanin). Proses taning inilah yang dahulu menggunakan kotoran dan otak hewan. Bahan tanin terdiri dari material tumbuhan, bisa pula berupa zat kimia (mineral).

 

# # #

 

Bahan tannin tumbuh-tumbuhan, kebanyakan diambil dari kulit batang. Tumbuhan yang banyak diambil kulitnya untuk bahan penyamak antara lain akasia gunung (Acacia decurrens), dan bakau (Rhizophora Sp). Bahan mineral yang lazim digunakan untuk proses taning dalam penyamakan kulit antara lain chromium (Cr – 24), dan chromium sulfate, Chromium (III) sulfate, (H24Cr2S3O24). Proses taning dengan chromium, lebih cepat dibandingkan dengan bahan penyamak kulit akasia dan bakau. Dengan cromium, waktu yang penyamakan bisa kurang dari sehari, dengan hasil penyamakan yang lebih baik dibanding menggunakan kulit akasia dan bakau. Di Indonesia, taning penyamakan kulit, masing lebih banyak yang menggunakan kulit akasia dan bakau, karena faktor ekonomis.

 

Setelah proses taning, kulit harus dikeringkan sambil diratakan lembaran-lembarannya. Secara tradisional, proses pengeringan dilakukan dengan penjemuran, dan terpisah dari proses perataan lembaran. Pertama kulit dicuci untuk menghilangkan sisa-sisa zat tanin, baik tanin alam maupun kimia. Setelah itu kulit basah ditiriskan, dan kemudian dijemur sampai kering. Setelah kering, baru kulit diratakan dengan menyeterika, atau menggunakan alat pengepres. Dalam industri penyamakan modern, pengeringan dan perataan kulit dilakukan serentak, dengan melewatkan kulit basah pada alat pengering, sekaligus pengepres. Kulit yang sudah kering dan rata, tinggal dirapikan (dipotong) bagian pinggirnya, dipacking, dan dikirim ke pabrik sepatu, tas, dll.

 

Kulit kering yang telah disamak, berwarna kecokelatan, apabila prnyamakan menggunakan tanin kulit kayu, dan kebiru-biruan apabila penyamakan menggunakan cromium. Bagian luar kulit yang dulunya ditumbuhi bulu, atau sisik, bisa dibiarkan sesuai dengan warna aslinya, terutama warna cokelat tanin kulit kayu. Warna asli kulit ini bisa dikilapkan dengan pernis, bisa pula tetap dibiarkan tetap pada keadaan aslinya. Bagian luar kulit ini bisa pula diberi warna sesuai dengan selera konsumen. Mulai dari cokelat muda, cokelat tua, hitam, abu-abu, dan biru tua. Sekarang industri penyamakan kulit sudah bisa berada di tengah pemukiman, sebab tidak lagi menimbulkan pencemaran bau seperti halnya pada penyamakan kulit jaman purba. (R) # # #

Share and Enjoy

  • Facebook
  • Twitter
  • Delicious
  • LinkedIn
  • StumbleUpon
  • Add to favorites
  • Email
  • RSS